Gaungnya Hingga Ke Mancanegara


Gaungnya Hingga ke Mancanegara
Kerajinan Gitar, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo

Geliat perekonomian di Sukoharjo cukup mengagumkan. Perkembangannya tak terkonsentrasi di dalam kota saja. Namun meluas hingga kecamatan dan desa. Bahkan, sentra perekonomian itu bisa langsung dinikmati wisatawan.
Berikut reportase wartawan Koran JITU Indratno Eprilianto dan Totok Jimboeng saat mengintip kerajinan gitar di Kecamatan Baki, 26 Maret 2010.
Terik matahari tak menyurutkan niat melihat perkembangan sentra industri gitar di Kecamatan Baki, Sukoharjo. Tepat pukul 09.00, kami sudah sampai di Dukuh Kembangan, Desa Mancasan. Tak butuh waktu lama menuju di tempat itu.
Dari pusat kota hanya berjarak tiga kilometer. Saat memasuki desa tersebut, kesibukan para perajin yang diiringi suara gemuruh mesin gergaji menjadi kegiatan harian para pekerja.
Hampir seluruh warga di desa ini merupakan pekerja yang berprofesi sebagai pembuat gitar. Mulai gitar elektrik, bas betot, biola, dan ukulele. Harganya pun beragam, menyesuaikan pasaran dan jenis bahan bakunya.

Kalau pesanan dengan bahan baku istimewa, tentu harganya pun melambung sesuai dengan order.
Beberapa bahan baku yang kerap mereka gunakan antara lain kayu mahoni, sengon, jati londo dan waru. Kini hampir semua warga Desa Mancasan mengandalkan pendapatannya dari kerajinan membuat gitar, atau alat musik lain yang sejenis.
Seperti kontrabas, cuk, rebab dan mandolin. “Baik buruknya kualitas gitar, ditentukan oleh jenis kayu yang dipakai. Pilihan kayu ini akan berpengaruh besar terhadap bunyi gaung gitar,” ujar Mujiono, perajin setempat.
Gitar keluaran Desa Baki biasa dijual dengan kisaran harga antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Dikenal berkualitas baik, alat musik petik buatan Desa Baki ini kerap mendapat pesanan dari berbagai toko alat musik di sejumlah kota seperti Surakarta, Jogja, Surabaya, Bandung dan Jakarta.
Bahkan gitar produksi Desa Mancasan terbang sampai ke mancanegara. Seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Untuk kualitas lem yang dipergunakan, mutu lem perekat kayu tripleks untuk gitar, akan sangat mempengaruhi daya tahan kekuatannya.
Setiap perajin punya ramuan lem sendiri. Jadi bisa dikatakan, ramuan lem merupakan rahasia masing-masing rumah produksi. Dalam memproduksi, warga juga bahu-membahu, apalagi bila mendapat pesanan dengan jumlah yang banyak.
Ada beberapa rumah yang secara khusus mengerjakan bagian pengadaan stang gitar. Sementara beberapa rumah lain membuat bagian tubuh gitar, dan sebagian lagi khusus melakukan tahap penyelesaian atau finishing.
Desa Mancasan memang menarik untuk menjadi desa wisata. Selain melihat kesibukan para perajin yang hiruk pikuk dengan pekerjaannya, kita juga akan disuguhi pemandangan deretan showroom yang komplet dengan hasil kerajinan yang sudah jadi.
Seperti di Showroom Gema Musika milik Sukiyono. Ditempat ini lengkap dipajang berbagai jenis alat musik baik elektrik maupun akustik. Selain itu, motif batik juga menjadi trend model gitar dan ukulele ditempat itu. (epr)

Di kutip dari : www.koranjitu.com

Produk Terkait:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Kirim Komentar Anda